Hal ini dibenarkan Kepala LP Cipinang, Haviluddin, saat dikonfirmasi oleh TempeRamen di sela-sela lomba karaoke Minggu (8/16) malam.

“Makin banyak yang mati makin bagus,” ujar Haviluddin terkekeh.
Haviluddin mengakui pihaknya kewalahan dalam mengendalikan narapidana di dalam LP yang jumlahnya sudah terlalu banyak. Namun ia membantah jika kegiatan ini dicap sebagai proyek dadakan. “Program ini memang sudah saya rancang sejak cukup lama,” katanya. Bahkan, ini adalah pilot project yang nantinya akan digulirkan ke LP-LP lain di Indonesia yang mengalami masalah kelebihan kapasitas penghuni.
JIka program ini berhasil diterapkan di Cipinang dengan hasil memuaskan, salah satu LP yang menjadi prioritas selanjutnya adalah LP Abepura di Jayapura, Papua. Menurut laporan yang diterimanya, LP tersebut termasuk yang paling padat penghuninya. Berbagai cara sudah ditempuh oleh Kalapas-kalapas yang pernah ditugaskan disana demi mengatasi masalah tersebut, namun belum membawa dampak yang berarti.
“Saking padatnya, napi disana banyak yang diberi berbagai macam surat ijin keluar sementara, dari Ijin Merayakan Hari Raya sampai Ijin Mencari Nafkah,” tandas Haviluddin, prihatin.
Tentang keaslian surat Grasi yang dijanjikan, Haviluddin menerangkan lebih lanjut bahwa janji tersebut bohong belaka. Secara realistis memang tidak ada cerita Grasi diberikan semata-mata dengan alasan menang lomba panjat pinang. Jangankan Grasi, Remisi pun tidak. “Tidak ada itu,” katanya.
Ditanya tentang kemungkinan para napi tersinggung jika mengetahui mereka dibohongi, Kalapas Cipinang ini mengaku tidak khawatir sama sekali. Ia yakin para napi tidak akan protes.
“Dapat kesempatan bunuh-bunuhan saja sudah senang mereka,” ujarnya, terkekeh lagi.

